Resensi Novel: Amira, Cinta dari Tanah Surga

Judul : Amira, Cinta dari Tanah Surga
Pengarang : Suliwe
Penerbit : Gema Insani
Tahun terbit : 2011
Jumlah halaman  : 232 halaman


Sebuah pengingkaran pada hati nurani dan cinta kasih dari diri kita adalah sebuah sketsa dari perjalanan hidup yang paling pedih untuk ditapaki dan dihadapi. Kita mungkin tak pernah bisa mengungkapkan sebuah cinta pada orang yang kita cintai. Kita tak pernah tahu apakah ada hari esok. Ada sesuatu di hati kita. Akan lebih indah mungkin, jika kita membawanya bersama kematian kita. Kita hanya bisa berharap, bahwa di kehidupan esok dia pasti milik kita.
            Ini adalah kisa hidup Amira, seorang perempuan yang kini umurnya sudah tak muda lagi, menjalani kehidupannya yang bahagia bersama suaminya, Fahmi. Sudah empat puluh tahun mereka menjalani bahtera rumah tangga. Sarah, adik amira yang dulunya lucu dan menggemaskan, kini sudah menjadi wanita dewasa dan mempunyai anak, Husna. Husna anak yang baik dan patuh, persis seperti ibunya saat kecil dulu.
            Sembilan juni, tanggal itu selalu mengingatkan Amira dan Fahmi tentang sosok sahabat yang sangat mereka cintai, dialah Muhammad Al-Fatih. Nama yang sama dengan nama seorang pemuda penakluk konstantinopel. Tetangga baru Amira empat puluh tahun silam itu sangat lucu dan paling pandai membuat orang tersenyum. Seakan tidak pernah ada kedukaan didalam hidup Fatih, dia selalu tersenyum dan tertawa, dan itu membuat semua orang yang ada didekatnya ikut tersenyum pula. Kehadirannya di kehidupan Amira, Sarah, dan Ibunya telah menghadirkan banyak warna dikehidupan keluarga kecil itu. Fatih telah membawa banyak perubahan di hidup mereka, mulai dari warung reformasi bu Fatimah, coklat besar dan kaki kiri untuk Sarah, usaha fotocopy panggilan Ardian, dan  kerudung Amira.
            Sejak pertama kali Amira dan Fatih bertemu, mereka sudah saling tertarik. Kehadiran Fatih yang selalu ceria mengusik hati Amira, Amira mulai menyukai sosok Fatih. Keceriaan Fatih begitu mempesona sehingga tiada yang menyadari apa yang sedang diderita Fatih. Seakan tak ingin berbagi kedukaan kepada semua orang, Fatih mnyembunyikan penyakitnya. Fatih sadar, hidupnya tak akan lama lagi. Kanker ganas itu telah memasuki stadium empat, dan vonis dokter menyatakan bahwa hidupnya tinggal dua bulan lagi.
Amira yang mencintainya, membuat Fatih tak berdaya. Fatih tak mau Amira tau tentang derita sakitnya, dengan berpura-pura telah menikah dengan seorang wanita bernama Nisa, Fatih menolak cinta Amira. Amira keluar dari rumah Fatih dengan air mata membasahi pipinya. Tetesan hujan seakan mengerti rasa sakit yang diderita Amira. Dalam hati Fatih juga mencintai Amira, cinta yang tulus karena Allah. Namun Fatih tak ingin membuat Amira sedih karena umur Fatih yang tak lama lagi.
Fahmi, sahabat Fatih sejak di panti asuhan, diam-diam juga mencintai Amira. Di sisa umurnya, Fatih pun berusaha membahagiakan kedua sahabatnya itu. Dengan segala upaya, akhirnya Fahmi pun menikah dengan Amira. Fatih menjadi saksi pengucapan ijab kabul Fahmi untuk Amira. Betapa sakit dan sedihnya hati Fatih ketika itu, seharusnya ia yang mengucapkan ijab kabul itu, bukan Fahmi. Namun Fatih tahu, inilah jalan terbaik untuk Amira.
Dan hari itu telah tiba. Ruang ICU, infus, dan darah yang keluar dari mulut Fatih. Kanker stadium empat. Fatih yang menjadi saksi pernikahan Amira dan Fahmi, mendadak jatuh pingsan dan segera dibawa ke rumah sakit. Mungkin hari ini malaikat maut akan menjemput Fatih untuk kembali ke sisi Sang Penguasa Kehidupan. Di masa-masa kritisnya itu, Fatih tetap menjadi pribadi yang lucu dan selalu membuat orang lain tersenyum.
Berjanjilah, kini dia bisa jadi milikmu, tapi di kehidupan mendatang, Amira adalah milikku”, itu kalimat terakhir Fatih sebelum menghembuskan nafas terakhir yang disampaikan kepada Fahmi, yang disaksikan tangis tiada kira Amira. Fatih juga sempat berpesan pada Amira. Jika ia meninggal nanti, ia ingin dimakamkan di tempat yang sama di mana ayah Fatih dimakamkan, Tanah Surga. Tanah yang terletak diatas bukit dengan sejuta keindahannya. Dan benar, malaikat maut itu datang hari ini. Semua tak bisa dihindari, Fatih pergi dengan senyuman dibibirnya dan memberikan begitu banyak kenangan manis bagi orang-orang disekitarnya.
Cinta dari seorang anak manusia itu, takkan bisa dilupakan Amira. Cinta itu tetap tumbuh rindang, sangat lebat. Akarnya menjalar dan mencengkram kuat. Dengan cinta itulah Amira belajar mencintai seseorang hanya karena Allah. Cinta itulah cinta Fatih untuk Amira.





0 Response to "Resensi Novel: Amira, Cinta dari Tanah Surga"

Posting Komentar

Entri Populer